Selasa, 26 Februari 2013

Penemuan bangkai kapal nabi Nuh

 Kali ini, saya akan membahas tentang penemuan bangkai kapal nabi Nuh. Silahkan membaca....
 
GUNUNG ARARAT TURKI
Penemuan Bangkai Kapal Nabi Nuh

Para ahli arkeologi menemukan sebuah tempat yang diperkirakan sebagai bangkai kapal Nabi Nuh.


Di Gunung Ararat, Turki ini, para peneliti meyakini sebagai tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS saat banjir besar surut. Tampak model perahu yang dijadikan pusat penelitian.

B
agi umat islam yang pernah membaca sejarah 25 Nabi dan Rasul, pastinya mengetahui tentang kisah Nabi Nuh Alaihissalam. Ia diutus oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya menyembah Allah. Dan selama lebih kurang 950 tahun, Nabi Nuh berdakwah kepada tiga generasi dari kaumnya. Dalam waktu yang panjang itu, Nabi Nuh AS hanya mendapatkan pengikut kurang dari 100 orang dan delapan anggota keluarganya (ada yang menyebutkan 70 orang dan 8 anggota keluarganya).
Padahal, Nabi Nuh AS telah berdakwah siang dan malam, namun kaumnya tak mau juga menerima kehadirannya sebagai rasul Allah. Hingga akhirnya Ia memohon kepada Allah agar kaumnya yang suka membangkang itu di beri peringatan. Doanya pun dikabulkan oleh Allah SWT. Ia diperintahkan untuk membuat sebuah perahu besar (bahtera) sebagai persiapan bila siksa Allah berupa banjir besar datang.

Nuh diperintahkan untuk mengikutsertakan berbagai spesies binatang secara berpasang-pasangan, baik liar maupun jinak ke dalam perahunya. Setelah semuanya siap, pengikut Nabi Nuh dan hewan-hewan tersebut telah naik ke dalam bahtera itu, turunlah hujan yang sangat lebat hingga mengakibatkan banjir besar. Selain mereka yang berada di atas kapal, tak ada yang selamat dari banjir tersebut. Setelah beberapa lama berlayar di atas lautan banjir, air pun surut.
         Dan ketika banjir telah reda dan air telah surut, kapal Nabi Nuh kemudian terdampar (berlabuh) di sebuah bukit yang tinggi (al-judy). Peristiwa ini secara lengkap terdapat dalam AlQuran surah Nuh [71]: 1-28; Hud[11]: 25-33, 40-48, dan 89.
“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, “dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu berlabuh di atas bukit (judy) dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Hud [11]: 44)
Cerita serupa juga terdapat dalam berbagai surah lainnya dalam AlQuran, seperti Al-Ankabut [29]:14-15, Al-Mu’minun [23]: 23-41, Asy-Syuara [26]: 105-122, Al-A’raf [7]: 59-69, dan Yunus [10]: 71-74.
           Peristiwa banjir besar yang melanda umat Nabi Nuh ini, tidak hanya terdapat dalam AlQuran, tetapi juga ada dalam agama dan kebudayaan negeri lainnya. Dalam Injil (bible), kisah serupa juga terdapat dalam Genesis 6: 15, 7: 4-7, 8: 3-4, dan 8: 29. Begitu juga dalam Mitologi Sumeria, Akkadia, Babilonia, serta kebudayaan India, Wales, Lithuania, dan Cina. (lihat penjelasannya pada bagian artikel ini)
           Para peneliti arkeologi dari berbagai negara berlomba-lomba mengungkap kebenaran cerita itu dengan meneliti tempat berlabuhnya kapal Nuh tersebut. Bahkan seorang warga dari Belanda, Johan Huibers, membuat replika kapal Nabi Nuh beberapa tahun silam, proyeknya itu ia klaim sebagai pembuktian kesetiaan imannya kepada Tuhan dan ajaraNya.
Bukan hanya Huibers yang terinspirasi dari kisah Nabi Nuh. Tapi, cerita tentang bahtera Nabi Nuh telah beratus-ratus tahun menjadi inspirasi maupun perbincangan di kalangan awam, arkeolog, dan sejarawan dunia. Hingga mereka berusaha untuk menemukan bangkai atau sisa-sisa dari perahu Nuh itu. Sejumlah peneliti mengaku telah menemukan bukti-bukti tentang keberadaan kapal Nuh itu. Melalui penelitian selama beratu-ratus tahun dan mengamati hasil foto satelit, salah satu situs yang dipercaya sebagai jejak peninggalan kapal tersebut terletak di pegunungan Ararat, Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran.
      Pemerintah Turki mengklaim, bahwa setelah lebih dari 5000 tahun terpendam, bangkai kapal Nuh tersebut ditemukan pada 11 Agustus 1979 di wilayahnya. Bahkan, situs ini telah dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata. Pemerintah Iran juga melakukan penyelidikan di Gunung Sabalan, 300 Km dari situs pertama.
          Seperti yang terlihat dari foto-foto lansiran situs www.noaharks-naxuan.com, di lokasi gunung Ararat, tampak sebuah bentuk simetris raksasa seperti cekungan perahu. Diduga tanah, debu, dan batuan vulkanis yang memiliki usia berbeda-beda, telah masuk ke dalam perahu tersebut selama ribuan tahun sehingga memadat dan membentuk seperti perahu. Disekitarnya ditemukan pula jangkar batu, reruntuhan bekas pemukiman, dan ukiran dari batu.
        Memanfaatkan peta satelit dari Google Earth, lokasi situs perahu Nabi Nuh itu terletak pada ketinggian sekitar 2.515 meter dari permukaan laut (dpl). Lokasinya berada di kaki bukit yang agak rata. Sedangkan di daerah sekitarnya terdapat lembah raksasa yang memiliki ketinggian jauh lebih rendah.
Berdasarkan hal ini, perahu Nabi Nuh diperkirakan mendarat pada saat banjir masih belum benar-benar surut. Hal ini juga menunjukkan bahwa kondisi topografi di sekitar situs perahu Nabi Nuh sangat mendukung untuk terjadinya banjir besar.
       Keberadaan kapal Nuh di pegunungan Ararat itu diyakini para peneliti arkeologi sebagai penemuan paling heboh, selain Mumi Firaun. Sebab, penelitian itu telah dilakukan ratusan kali dengan melibatkan para pakar dan ahli geologi, arkeolog dan pesawat luar angkasa untuk mengawasi serta meneliti pegunungan Ararat. Dan ‘penemuan’ ini sangat berharga karena peristiwa itu terjadi lebih dari 5000 tahun yang lalu.
        Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. Para peneliti percaya bahwa batu tersebut adalah drogue-stones. Pada zaman dulu, batu tersebut biasa dipakai pada bagian belakang perahu besar (kemudi) untuk menstabilkan perahu sewaktu berlayar. Para peneliti juga menemukan sesuatu yang tidak lazim pada batu tersebut, yaitu adanya molekul baja yang diperkirakan berusia ribuan tahun lalu dan dibuat oleh tangan manusia. Karena itu, mereka meyakini, tempat tersebut adalah jejak pendaratan perahu Nuh.
           Dari beberapa foto-foto yang dihasilkan, lokasi gunung Ararat ini memang menunjukan adanya sebuah perahu yang sangat besar. Ukuran perahu itu diperkirakan memiliki luas 7.546 kaki dengan panjang sekitar 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki. Dalam situs www.worldwideflood.com juga dibahas secara lebih mendetil, mulai dari ukuran perahu, hewan yang naik ke kapal, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat perahu, dan lain sebagainya.
Baidawi, salah seorang peneliti muslim menjelaskan, ukuran kapal itu sekitar 300 hasta (50 meter dan luas 30 meter) dan terdiri dari tiga tingkat. Di tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan. Lalu, pada tingkat kedua ditempatkan manusia, dan yang ketiga burung-burung.
Ada juga yang berpendapat, kapal Nuh itu berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola. Luas pada bagian dalamnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia (tinggi manusia jaman modern). Dan jarak dari satu tingkat ke tingkat lainnya mencapai 12 hingga 13 kaki. Dan hewan-hewan dari berbagai spesies itu jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu ekor.
Menurut Dr. Withcomb, dalam perahu itu terdapat sekitar 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi, dan sisanya umat Nabi Nuh. Adapun berat perahu tersebut diprediksi mencapai 24.300 ton.
Bahtera Nabi Nuh diperkirakan dibuat sekitar tahun 3465 SM. Dan beberapa berpendapat, perahu tersebut dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak, yaitu sebuah kawasan yang terletak di selatan Irak. Jika perahu itu dibangun di selatan Irak (tempat Nabi Nuh diutus) dan akhirnya terdampar di utara Turki, kemungkinan besar bahtera tersebut telah terbawa arus air sejauh 560 km.
            Kebenaran penemuan itu, masih diperdebatkan banyak pihak. Namun, sejumlah peneliti percaya bahwa pegunungan Ararat adalah tempat berlabuhnya kapal Nuh. AlQuran tidak menyebutkan nama sebuah gunung kecuali nama al-judy, yang bermakna sebuah tempat yang tinggi.
Pegunungan Ararat dikenal sebagai gunung yang unik di Turki. Keunikannya, hampir setiap hari akan terlihat pelangi dari sebelah utara puncak gunung.

pegunungan Ararat ini dikenal pula sebagai salah satu gunung yang memiliki puncak terluas di dunia dan tertinggi di Turki. Puncak tertingginya mencapai 16,984 kaki dari permukaan laut, sedangkan puncak kecilnya setinggi 12.806 kaki. Jika seseorang berhasil menaklukkan pucak besarnya, mereka akan menyaksikan empat wilayah Negara, yaitu Rusia, Iran, Irak, dan Turki.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar