Kali ini, saya akan membahas tentang penemuan bangkai kapal nabi Nuh. Silahkan membaca....
GUNUNG ARARAT TURKI
Penemuan Bangkai Kapal Nabi Nuh
Para ahli arkeologi menemukan sebuah tempat yang diperkirakan sebagai bangkai kapal Nabi Nuh.
Di
Gunung Ararat, Turki ini, para peneliti meyakini sebagai tempat
berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS saat banjir besar surut. Tampak model
perahu yang dijadikan pusat penelitian.
B
|
agi umat islam yang pernah membaca sejarah 25 Nabi dan Rasul, pastinya mengetahui tentang kisah Nabi Nuh Alaihissalam.
Ia diutus oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya menyembah Allah. Dan
selama lebih kurang 950 tahun, Nabi Nuh berdakwah kepada tiga generasi
dari kaumnya. Dalam waktu yang panjang itu, Nabi Nuh AS hanya
mendapatkan pengikut kurang dari 100 orang dan delapan anggota
keluarganya (ada yang menyebutkan 70 orang dan 8 anggota keluarganya).
Padahal,
Nabi Nuh AS telah berdakwah siang dan malam, namun kaumnya tak mau juga
menerima kehadirannya sebagai rasul Allah. Hingga akhirnya Ia memohon
kepada Allah agar kaumnya yang suka membangkang itu di beri peringatan.
Doanya pun dikabulkan oleh Allah SWT. Ia diperintahkan untuk membuat
sebuah perahu besar (bahtera) sebagai persiapan bila siksa Allah berupa
banjir besar datang.
Nuh
diperintahkan untuk mengikutsertakan berbagai spesies binatang secara
berpasang-pasangan, baik liar maupun jinak ke dalam perahunya. Setelah
semuanya siap, pengikut Nabi Nuh dan hewan-hewan tersebut telah naik ke
dalam bahtera itu, turunlah hujan yang sangat lebat hingga mengakibatkan
banjir besar. Selain mereka yang berada di atas kapal, tak ada yang
selamat dari banjir tersebut. Setelah beberapa lama berlayar di atas
lautan banjir, air pun surut.
Dan ketika banjir telah reda dan air telah surut, kapal Nabi Nuh
kemudian terdampar (berlabuh) di sebuah bukit yang tinggi (al-judy). Peristiwa ini secara lengkap terdapat dalam AlQuran surah Nuh [71]: 1-28; Hud[11]: 25-33, 40-48, dan 89.
“Dan
difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan)
berhentilah, “dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan
bahtera itu berlabuh di atas bukit (judy) dan dikatakan: “Binasalah
orang-orang yang zhalim.” (QS. Hud [11]: 44)
Cerita serupa juga terdapat dalam berbagai surah lainnya dalam AlQuran, seperti Al-Ankabut [29]:14-15, Al-Mu’minun [23]: 23-41, Asy-Syuara [26]: 105-122, Al-A’raf [7]: 59-69, dan Yunus [10]: 71-74.
Peristiwa banjir besar yang melanda umat Nabi Nuh ini, tidak
hanya terdapat dalam AlQuran, tetapi juga ada dalam agama dan kebudayaan
negeri lainnya. Dalam Injil (bible), kisah serupa juga terdapat dalam Genesis 6: 15, 7: 4-7, 8: 3-4, dan 8: 29. Begitu juga dalam Mitologi Sumeria, Akkadia, Babilonia, serta kebudayaan India, Wales, Lithuania, dan Cina. (lihat penjelasannya pada bagian artikel ini)
Para peneliti arkeologi dari berbagai negara berlomba-lomba
mengungkap kebenaran cerita itu dengan meneliti tempat berlabuhnya kapal
Nuh tersebut. Bahkan seorang warga dari Belanda, Johan Huibers,
membuat replika kapal Nabi Nuh beberapa tahun silam, proyeknya itu ia
klaim sebagai pembuktian kesetiaan imannya kepada Tuhan dan ajaraNya.
Bukan
hanya Huibers yang terinspirasi dari kisah Nabi Nuh. Tapi, cerita
tentang bahtera Nabi Nuh telah beratus-ratus tahun menjadi inspirasi
maupun perbincangan di kalangan awam, arkeolog, dan sejarawan dunia.
Hingga mereka berusaha untuk menemukan bangkai atau sisa-sisa dari
perahu Nuh itu. Sejumlah peneliti mengaku telah menemukan bukti-bukti
tentang keberadaan kapal Nuh itu. Melalui penelitian selama beratu-ratus
tahun dan mengamati hasil foto satelit, salah satu situs yang dipercaya
sebagai jejak peninggalan kapal tersebut terletak di pegunungan Ararat, Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran.
Pemerintah Turki mengklaim, bahwa setelah lebih dari 5000 tahun
terpendam, bangkai kapal Nuh tersebut ditemukan pada 11 Agustus 1979 di
wilayahnya. Bahkan, situs ini telah dibuka untuk umum dan menjadi objek
wisata. Pemerintah Iran juga melakukan penyelidikan di Gunung Sabalan,
300 Km dari situs pertama.
Seperti yang terlihat dari foto-foto lansiran situs www.noaharks-naxuan.com,
di lokasi gunung Ararat, tampak sebuah bentuk simetris raksasa seperti
cekungan perahu. Diduga tanah, debu, dan batuan vulkanis yang memiliki
usia berbeda-beda, telah masuk ke dalam perahu tersebut selama ribuan
tahun sehingga memadat dan membentuk seperti perahu. Disekitarnya
ditemukan pula jangkar batu, reruntuhan bekas pemukiman, dan ukiran dari
batu.
Memanfaatkan peta satelit dari Google Earth, lokasi
situs perahu Nabi Nuh itu terletak pada ketinggian sekitar 2.515 meter
dari permukaan laut (dpl). Lokasinya berada di kaki bukit yang agak
rata. Sedangkan di daerah sekitarnya terdapat lembah raksasa yang
memiliki ketinggian jauh lebih rendah.
Berdasarkan
hal ini, perahu Nabi Nuh diperkirakan mendarat pada saat banjir masih
belum benar-benar surut. Hal ini juga menunjukkan bahwa kondisi
topografi di sekitar situs perahu Nabi Nuh sangat mendukung untuk
terjadinya banjir besar.
Keberadaan kapal Nuh di pegunungan Ararat itu diyakini para
peneliti arkeologi sebagai penemuan paling heboh, selain Mumi Firaun.
Sebab, penelitian itu telah dilakukan ratusan kali dengan melibatkan
para pakar dan ahli geologi, arkeolog dan pesawat luar angkasa untuk
mengawasi serta meneliti pegunungan Ararat. Dan ‘penemuan’ ini sangat
berharga karena peristiwa itu terjadi lebih dari 5000 tahun yang lalu.
Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan sebuah batu besar
dengan lubang pahatan. Para peneliti percaya bahwa batu tersebut adalah drogue-stones.
Pada zaman dulu, batu tersebut biasa dipakai pada bagian belakang
perahu besar (kemudi) untuk menstabilkan perahu sewaktu berlayar. Para
peneliti juga menemukan sesuatu yang tidak lazim pada batu tersebut,
yaitu adanya molekul baja yang diperkirakan berusia ribuan tahun lalu
dan dibuat oleh tangan manusia. Karena itu, mereka meyakini, tempat
tersebut adalah jejak pendaratan perahu Nuh.
Dari beberapa foto-foto yang dihasilkan, lokasi gunung Ararat
ini memang menunjukan adanya sebuah perahu yang sangat besar. Ukuran
perahu itu diperkirakan memiliki luas 7.546 kaki dengan panjang sekitar
500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki. Dalam situs www.worldwideflood.com
juga dibahas secara lebih mendetil, mulai dari ukuran perahu, hewan
yang naik ke kapal, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat perahu,
dan lain sebagainya.
Baidawi,
salah seorang peneliti muslim menjelaskan, ukuran kapal itu sekitar 300
hasta (50 meter dan luas 30 meter) dan terdiri dari tiga tingkat. Di
tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah
dijinakkan. Lalu, pada tingkat kedua ditempatkan manusia, dan yang
ketiga burung-burung.
Ada
juga yang berpendapat, kapal Nuh itu berukuran lebih luas dari sebuah
lapangan sepak bola. Luas pada bagian dalamnya cukup untuk menampung
ratusan ribu manusia (tinggi manusia jaman modern). Dan jarak dari satu
tingkat ke tingkat lainnya mencapai 12 hingga 13 kaki. Dan hewan-hewan
dari berbagai spesies itu jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu
ekor.
Menurut
Dr. Withcomb, dalam perahu itu terdapat sekitar 3.700 binatang mamalia,
8.600 jenis burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi, dan
sisanya umat Nabi Nuh. Adapun berat perahu tersebut diprediksi mencapai
24.300 ton.
Bahtera
Nabi Nuh diperkirakan dibuat sekitar tahun 3465 SM. Dan beberapa
berpendapat, perahu tersebut dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak,
yaitu sebuah kawasan yang terletak di selatan Irak. Jika perahu itu
dibangun di selatan Irak (tempat Nabi Nuh diutus) dan akhirnya terdampar
di utara Turki, kemungkinan besar bahtera tersebut telah terbawa arus
air sejauh 560 km.
Kebenaran penemuan itu, masih diperdebatkan banyak pihak. Namun,
sejumlah peneliti percaya bahwa pegunungan Ararat adalah tempat
berlabuhnya kapal Nuh. AlQuran tidak menyebutkan nama sebuah gunung
kecuali nama al-judy, yang bermakna sebuah tempat yang tinggi.
Pegunungan
Ararat dikenal sebagai gunung yang unik di Turki. Keunikannya, hampir
setiap hari akan terlihat pelangi dari sebelah utara puncak gunung.
pegunungan
Ararat ini dikenal pula sebagai salah satu gunung yang memiliki puncak
terluas di dunia dan tertinggi di Turki. Puncak tertingginya mencapai
16,984 kaki dari permukaan laut, sedangkan puncak kecilnya setinggi
12.806 kaki. Jika seseorang berhasil menaklukkan pucak besarnya, mereka
akan menyaksikan empat wilayah Negara, yaitu Rusia, Iran, Irak, dan
Turki.


Tidak ada komentar :
Posting Komentar